
Rakyat Today.Id Merauke – Anak buah kapal (ABK) kapal, khususunya kapal jaring ikan maupun kapal pencari cumi-cumi harus diperlakukan manusiawi. Sebab, cukup banyak ABK yang nekad maupun terpaksa harus kabur dari atas kapal, lantaran tidak sanggup menjalani hidupnya berbulan-bulan di lautan. Di tambah lagi kondisi di dalam kapal sangat memprihatinkan.
Tak hanya itu, kondisi asupan makanan, kesehatan hingga faktor upah yang tidak sesuai juga menjadi alasan.
Kapolres Merauke melalui Kasatpolairud, AKP Okto Samosir,SH mengatakan dari data yang diperoleh pihaknya dari sejumlah ABK yang kabur dari kapal, langkah itu terpaksa dilakukan lantaran mereka sudah jenuh di laut.
“Secara manusiawi, bagaimana dia bisa tahan di laut hingga 5 bulan bahkan ada yang hampir setahun, tidak melihat daratan sama sekali,” ujar Kasat Polair, Senin (5/9/2022).
Menurutnya, perusahaan kapal atau pengelola harusnya bisa memikirkan nasib mereka. Lamanya waktu melaut mencari ikan/cumi mestinya harus diperhitungkan juga. Tidak jarang ada kru kapal yang berujung sakit, karena tidak didukung dengan asupan makanan yang memadai dan jam istirahat yang cukup.
“Ini kami peroleh dari sejumlah ABK yang tidak mau naik kembali ke atas kapal, setelah berlabuh di Pelabuhan Perikanan Nusantara. Mereka lebih memilih mencari pekerjaan di darat, sekalipun kerja serabutan dan tidak memikirkan lagi soal perjanjian kontrak kerja,” ujarnya.
Dengan peristiwa yang terjadi akan berdampak juga bagi perusahaan. Karena harus mencari lagi kru demi kelancaran aktifitas melaut.
Pihaknya berharap agar dinas terkait juga bisa memikirkan hal tersebut dan mencari jalan keluar yang tepat. Dimana, sebelum pergi melaut, dinas, baiknya melakukan pengecekan terlebih dahulu kesiapan para ABK. Jangan sampai yang ikut berlayar tidak memiliki pengalaman dan kondisi kesehatannya tidak mendukung.
Selama ini setiap ada kasus ABK kabur maupun yang meninggal di atas kapal saat, pihaknya kesulitan akses ke pemilik kapal langsung, karena mereka berada di luar Papua.
“Saya harap ini menjadi perhatian kita bersama. Karena ini bukan pertamakali terjadi, tapi sudah berulang,” pintanya. ( Ami )




