
RAKYAT TODAY.ID _ DEPOK.JABAR – Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Letjen. TNI (Purn) Hinsa Siburian
menyampaikan keterangan Pers lewat rilisnya kepada sejumlah awak media nasional dan lokal di gedung siber jalan raya sawangan kota depok jawabarat,tentang lanskap ruang siber Indonesia pada hari ini senin, (7/3/2022) dimana pada kesempatan tersebut Hinsa menyampaikan beberapa poin penting, seperti Pertama, Tren Anomali Trafik Keamanan Siber periode Januari – Desember 2021.
BSSN melalui National Security Operation Centre (NSOC) telah melakukan monitoring dan identifikasi Potensi Serangan Siber selama 24/7. Hasil monitoring BSSN, tercatat lebih dari 1,6 miliar (1.637.973.022) anomali trafik/serangan siber dengan kategori anomali terbanyak yaitu Malware, Trojan Activity (Aktivitas Trojan), dan Information Gathering (Pengumpulan informasi untuk mencari celah keamanan). Sementara tren kasus insiden siber di Indonesia : Web Defacements, Data Breach, Human Operated Ransomware, Advance Persistent Threat. Sementara sebaran sektor anomali trafik/serangan siber (dari tertinggi hingga terendah) adalah sebagai berikut: 1. Akademik, sebesar 38,03%. 2. Swasta, sebesar 25,37%. 3. Pemerintah daerah, sebesar 16,86%. 4. Pemerintah pusat, sebesar 8,26%. 5. Hukum, sebesar 4,18%. 6. Personal, sebesar 2,66% Langkah langkah teknis yang telah dilakukan BSSN untuk memperkuat Keamanan Siber Nasional diantaranya: pemasangan sensor Honeynet & analisis malware, optimalisasi cakupan monitoring NSOC, pembentukan tim respon insiden keamanan
siber (CSIRT), pelaksanaan Information Technology Security Assessment (ITSA), penguatan sistem elektronik melalui penerapan kriptografi, dl BSSN menghimbau kepada seluruh penyelenggara sistem elektronik harus menyelenggarakan Sistem Elektronik secara andal dan aman serta bertanggung jawab terhadap beroperasinya Sistem Elektronik sebagaimana mestinya sesuai amanat UU ITE dan PP PSTE. Kedua, Mengenai Terorisme dan Radikalisme di Ranah Siber. BSSN terus berupaya bekerjasama dengan berbagai pihak dalam menjalankan program literasi keamanan siber sehingga dapat terbentuk budaya keamanan siber yang tangguh, dapat membentengi masyarakat dari berbagai ancaman terorisme,
radikalisme, dan disinformasi. Diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan ruang siber dengan baik, nyaman, aman, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, BSSN menghimbau agar masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan/awareness,
karena ruang siber menjadi salah satu media penyebaran dan perekrutan paham terorisme dan radikalisme. Ketiga, Serangan Siber pada Konflik Rusia dan Ukraina Konflik Rusia-Ukrania saat ini telah melibatkan penggunaan ruang dan potensi siber
sehingga dampaknya harus diperhitungkan karena sudah tidak tergantung lagi pada wilayah, ruang, dan waktu. Guna mensikapi hal tersebut maka aktifitas di ruang siber hendaknya selaras dengan sikap politik negara yang bebas aktif, netral tidak berpihak kepada siapapun. BSSN menghimbau kepada masyarakat & komunitas siber untuk tidak ikut melakukan aktifitas yang mendukung salah satu pihak, agar Indonesia tidak terjebak dalam situasi konflik di ruang siber, serta tetap dapat menjunjung tinggi salah satu pilar Keamanan Siber yang sedang diperjuangkan di forum PBB yaitu “Responsible State Behaviour in Cyberspace”. Keempat, Kebijakan dan Program Pemerintah BSSN senantiasa berperan aktif dalam menjalankan tugas keamanan siber yang terkait program-program pemerintah terkini, diantaranya Presidensi G20 dan
Program Pemindahan IKN. Terkait IKN baru, BSSN Bersama Kementerian terkait terus menyiapkan hal-hal mendasar yang dibutuhkan sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangannya. Sebagai contoh saat ini Pusat Pengembangan SDM BSSN
telah memiliki simulator keamanan siber smart city, yang digunakan sebagai sarana pelatihan keamanan siber bagi SDM Keamanan Siber dan Sandi guna mempersiapkan pengamanan siber pada Ibukota Negara yang baru tersebut.( Parulian )




