
Rakyattoday.id _ Tebing Tinggi.Sumut – Perayaan Tahun Baru Imlek 2573 Tahun 2022 sudah semakin dekat. Imlek kali ini masih dirayakan dalam suasana pandemi Covid-19. Aroma suasana Imlek mulai terasa di Indonesia, khususnya di Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara.
Para suku Tionghoa sudah terlihat sibuk mempersiapkan pernah pernik ataupun nuansa di rumah untuk merayakan pesta yang akan jatuh pada 1 Februari 2022 mendatang.
Imlek merupakan salah satu hari libur nasional. Imlek disetarakan libur sama halnya seperti libur Idul Fitri, Natal dan libur hari besar lainnya.
Pada periode 1965-1998, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Pelarangan ini dipertegas dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967. Rezim orde baru di bawah pemerintahan Soeharto melarang segala hal yang berbau Tionghoa, diantaranya Imlek.
Suku Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan Tahun Baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tersebut.
Kemudian, Megawati Soekarnoputri menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2002 tertanggal 9 April 2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional. Mulai 2003, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional.
Lalu, apakah Imlek itu ada kaitannya dengan ritual keagamaan tertentu?
Seorang Organisator Tionghoa di Tebingtinggi Sandy menyebutkan, banyak masyarakat keliru dengan hal ini. Menurutnya, banyak masyarakat beragama Buddha dan Konghucu berdatangan ke vihara dan kelenteng pada saat perayaan Imlek.
“Mereka mendatangi tempat ibadah untuk sembahyang dan berdoa kepada dewa dan para leluhur. Hal ini makin menguatkan persepsi kalau Imlek adalah termasuk perayaan ritual agama Konghucu atau Buddha,” ujar Sandy, rabu (26/1/2022).
Untuk hal tersebut, Sandy menjelaskan bahwa perayaan Imlek adalah perayaan suku Tionghoa, bukan perayaan suatu agama.
“Perayaan Imlek itu sebenarnya merupakan pesta rakyat suku Tionghoa yang sudah menjadi kebudayaan dalam kurun waktu setahun sekali. Jadi suku Tionghoa dalam agama apapun tetap boleh merayakan Imlek,” jelasnya.
Ia mengatakan, perayaan Imlek merupakan pesta rakyat orang Tionghoa yang dirayakan selama 15 hari dari tanggal satu Imlek (Che it) dari penanggalan Cina, hingga ditutup pada tanggal 15 (Cap Go Meh).
“Makna dari perayaan Imlek adalah mensyukuri anugerah yang telah diberikan Tuhan dan memohon perlindungan di masa mendatang,” kata pria yang menjabat Ketua DPC Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Kota Tebingtinggi ini.
Selain itu, kata Sandy, Imlek juga selalu dijadikan sarana silaturahmi untuk saling mengunjungi kerabat. Biasanya yang muda mengunjungi yang tua, kemudian yang tua memberikan hadiah yang biasa disebut angpao kepada yang muda.
“Memang kalau dilihat dari cara dan gayanya, Imlek itu memiliki kaitan erat terutama dengan Konghucu. Tapi sebenarnya Imlek bukan semata perayaan ritual keagamaan. Imlek sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Bahkan sebelum orang-orang Tionghoa mengenal agama,” ujarnya.
Imlek di Cina sudah ada sejak zaman prasejarah. Namun ajaran Tao dan Konghucu baru muncul sekitar tahun 600 atau 500 sebelum masehi, yaitu pada masa dinasti Zhou. Begitu juga Buddha yang baru muncul pada tahun 65 masehi di era Dinasti Han.
“Bagi yang beragama Konghucu, Imlek menjadi perayaan agama. Tapi bagi umat lain, baik itu Islam atau Kristen keturunan Tionghoa, Imlek bermakna budaya,” katanya.
Kalau dihitung dari jumlah tahunnya, perayaan Imlek sudah dirayakan sejak sekitar 7.000 tahun silam.
“Sekali lagi, saya menjelaskan bahwa perayaan Imlek bukanlah perayaan agama, melainkan sebuah budaya yang harus dirayakan demi menjaga nilai-nilai leluhur,” ujar Sandy.
Selain itu, perayaan Imlek juga kadang disebut Chun Cie (pesta musim semi). Hal itu erat kaitannya dengan keadaan musim di Cina, di mana masyarakat mengalami perubahan dari musim dingin yang suram menjadi musim semi yang cerah dan sejuk, serta penuh dengan kehidupan baru dari flora dan fauna.
“Maka kedatangan musim semi sangat disyukuri dan dirasakan patut dirayakan dengan penuh sukacita,” pungkasnya. (Alex saragih)



